Pasti kita sering mikir jadi seorang mahasiswa itu hukumnya fardhu ‘ain habis lulus SMA. Trus habis lulus muncul pilihan untuk melanjutkan studi kita (S2) atau nyari pekerjaan yang bagus. Manusia selalu dihadapkan pada berbagai pilihan yang memaksanya untuk berpikir lebih dan lebih untuk mendapatkan hasil yang memuaskan dari pilihan yang diambilnya.
Skalian flashback aja, dulu ketika kelas 3 SMA sedang trend temen-temen gw bingung milih kuliah yang bagus dimana, gw juga terkena efeknya. Akhirnya gw mulai nyaring mana aja yang bagus, g terlalu menguras kantong ortu, sama yang tesnya terlihat mudah. Eh,ujung2nya malah kriteria yg dipake tu universitas yg tesnya ud bentar lagi. Setelah mikir ngalor ngidul gw putuskan untuk daftar di dua perguruan silat eh universitas dengan inisial PM dan GM. Alhamdulillahnya semuanya diterima. Akhir cerita gw selamat menapakkan kaki di FE UGM (sekarang jadi FEB UGM) sebagai mahasiswa Manajemen.
Ini bagian yang seriusnya...
Dari Manajemen inilah gw yakin tempat orang bisa merubah jalan hidupnya dan menjadi orang-orang hebat di masa 10-20 tahun lagi. Kenapa gw bisa bilang sperti itu? Karena menurut Mr. HH (salah seorang dosen FEB), dalam sebuah acara di stasiun TV lokal, ilmu manajemen dibutuhkan oleh tiap orang. Mulai dari me-manage diri sendiri sampai sebuah korporasi atau lembaga kelas atas. Mungkin banyak orang menganggap manajemen bisa dipelajari secara otodidak. Ya, bagi tiap orang yang jenius bisa menerapkan manajemen otodidak-nya dalam sebuah konsep perusahaan atau lembaga yang dipimpin. Contoh konkretnya adalah Ir. Soekarno yang notabene adalah insinyur namun bisa menjadi seorang pemimpin yang kharismatis. Tapi tidak bagi semua orang. Orang-orang seperti gw perlu belajar manajemen secara lebih terpadu agar bisa setingkat dengan orang-orang jenius tersebut. Tentunya di universitas yang punya reputasi bagus (baca:UGM).
Mr. HH juga menyebutkan tentang pembelajaran dalam lingkungan FEB membuat kita seperti seorang seniman yang memahat sebuah patung. Seorang mahasiswa baru diibaratkan sebagai sebuah kayu polos. Pergaulan yang tidak baik membuat kita sebagai patung yang tidak baik juga. Namun pembelajaran yang diberikan dapat membentuk kita menjadi patung yang lebih indah. Sebut saja kuliah dan organisasi adalah salah dua variabel yang membuat kita menjadi lebih baik. Kenapa? Ya, manusia membutuhkan hard skill berupa teori-teori yang didapat dari kelas dan soft skill yang bisa didapat dari berorganisasi.
Dari buku “The 21st Century Manager” karya DI Kamp, ada beberapa karakteristik seorang manajer abad ke 21 yang dapat kita kembangkan dalam berorganisasi dan akan berguna bagi saat kita bekerja. Mungkin juga kemampuan ini sudah ada dalam diri kita menunggu untuk dikeluarkan.
Menjadi role model, orang yang memegang posisi tertentu dalam organisasi cenderung akan lebih diperhatikan oleh sekitarnya, menandakan pengaruh kita terhadap org lain. Hal ini yang menjadi bahan pertimbangan kita agar hati-hati dalam bertindak.
Mawas diri, kita diharapkan untuk mengelola diri kita secara baik sebelum mencoba mengelola orang lain dalam organisasi.
Suka belajar, penting bagi kita untuk menyadari bahwa diperlukan pembelajaran secara terus menerus agar dapat bersaing dan berkembang seiring dengan perkembangan jaman.
Suka perubahan, ada sebuah pepatah yang mengatakan “Hanya perubahan itu sendiri yang tidak berubah”. Dengan perubahan terus kita bisa selalu mengevaluasi diri kita agar selalu lebih baik. Ini terkait poin 2 dan 3.
Visioner, agar perubahan efektif harus ada suatu visi yang jelas tentang tujuan kita dan bagaimana agar tujuan tersebut akan tercapai dengan baik
etika dan nilai, “manusia berilmu tanpa etika akan menjadikannya penjahat, manusia beretika tanpa ilmu akan menjadikannya orang bodoh.” Karena itu etika dan ilmu harus berjalan bersama-sama.
Komunikasi dengan baik, seorang pemimpin dalam organisasi harus bisa membangun hubungan dengan orang lain dan dapat menyampaikan pesan secara jelas.
Berpikir positif, yakinlah bahwa dengan berpikir positif akan membawa hasil yang berbeda dibandingkan apabila berpikir negatif terhadap suatu permasalahan.
Antusiasme, dengan antusiasme yang kita keluarkan dalam setiap kegiatan pasti membuat orang lain menjadi antusias juga dalam mengikuti kegiatan tersebut.
Realistis, selalu sadar bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Namun dengan ketidaksempurnaan itu menjadikan seseorang manusia yang unik.
Mungkin apa yang gw tulis bisa kalian anggap lebay, cuma ini semua ga harus diikuti ato setidaknya dibaca-baca aja biar nantinya klo ada yang jadi seorang pemimpin bisa diterapin. Gw cuma mau kasitau pentingnya berorganisasi untuk mengasah soft skill dalam diri kita yang mungkin ga kita dapet dari kegiatan kuliah. Hidup MANAJEMEN!!!
PS: trims buat Mr.HH