Rabu, 30 April 2008

Membeli Waktu Papa

Steven adalah seorang karyawan perusahaan yang

cukup terkenal di Jakarta, memiliki dua putra. Putra

pertama baru berusia 6 tahun bernama Leo dan putra

ke dua berusia dua tahun bernama Kristian. Seperti

biasa jam 21.00 Steven sampai di rumahnya di salah

satu sudut Jakarta, setelah seharian penuh bekeja di

kantornya. Dalam keremangan lampu halaman rumahnya

dia melihat Leo putra pertamanya di temani bi Yati

pembantunya menyambut digerbang rumah.


“Kok belum tidur Leo?” sapa Steven sambil mencium

anaknya. Biasanya Leo sudah tidur ketika Steven

pulang dari kantor dan baru bangun menjelang Steven

berangkat ke kantor keesokan harinya.


“Leo menunggu Papa pulang, Leo mau tanya, gaji Papa

itu berapa sih Pa?” kata Leo sambil membuntuti

papanya.


“Ada apa nih kok tanya gaji papa segala?”


“Leo Cuma ingin tahu aja kok Pa?


“Baiklah coba Leo hitung sendiri ya. Kerja papa

sehari di gaji Rp 600.000,-, nah selama sebulan

rata-rata dihitung 25 hari kerja. Nah berapa gaji

papa sebulan?”


“Sehari Papa kerja berapa jam Pa?” tanya Leo lebih

lanjut.


“Sehari papa kerja 10 jam Leo, nah hitung sana, Papa

mau melepas sepatu dulu.”


Leo berlari ke meja belajarnya dan sibuk

mencoret-coret dalam kertasnya menghitung gaji

papanya. Sementara Steven melepas sepatu dan meminum

teh hangat buatan istri tercintanya.


“Kalau begitu, satu bulan Papa di gaji Rp

1.500.000,-, ya Pah? Dan satu jam papa di gaji Rp.

60.000,-.” Kata Leo setelah mencorat-coret sebentar

dalam kertasnya sambil membuntuti Steven yang

beranjak menuju kamarnya.


“Nah, pintar kamu Leo. Sekarang Leo cuci kaki lalu

bobok.” Perintah Steven, namun Leo masih saja

membuntuti Steven sambil terus memandang papanya

yang benrganti pakaian.


“Pa, boleh tidak Leo pinjam uang Papa Rp. 5.000,-

saja?” tanya Leo dengan hati-hati sambil menundukkan

kepalanya.


“Sudahlah Leo, nggak usah macam-macam, untuk apa

minta uang malam-malam begini. Kalau mau uang besok

saja, Papa kan capek mau mandi dulu. Sekarang Leo

tidur supaya besok tidak terlambat ke sekolah!”


“Tapi Pa..”


“Leooo!! Papa bilang tidur!”bentak Steven

mengejutkan Leo.


Segera Leo beranjak menuju kamarnya. Setelah mandi

Steven menengok kamar anaknya dan menjumpai Leo

belum tidur. Leo sedang terisak pelan sambil

memegangi sejumlah uang. Steven nampak menyesal

dengan bentakannya. Dipegangnyalah kepala Leo pelan

dan berkata:

“Maafkan Papa ya nak. Papa sayang sekali pada Leo.”

ditatapnya Leo anaknya dengan penuh kasih sambil

ikut berbaring di sampingnya.


“Nah katakan pada Papa, untuk apa sih perlu uang

malam-malam begini. Besok kan bisa, jangankan Rp.

5.000,-, lebih banyak dari itupun akan Papa kasih.”


“Leo nggak minta uang Papa kok, Leo cuma mau pinjam.

Nanti akan Leo kembalikan, kalau Leo udah menabung

lagi dari uang jajan Leo.”


“Iya, tapi untuk apa Leo?” tanya Steven dengan lembut.


“Leo udah menunggu Papa dari sore tadi, Leo nggak

mau tidur sebelum ketemu Papa. Leo ingin mengajak

Papa main ular tangga. Tiga puluh menit saja. Ibu

sering bilang bahwa waktu papa berharga. Jadi Leo

ingin beli waktu Papa.”


“Lalu.” tanya Steven penuh perhatian dan kelihatan

belum mengerti.


“Tadi Leo membuka tabungan, ada Rp 25.000,-. Tapi

karena Papa bilang satu jam Papa dibayar Rp.

60.000,-, maka untuk setengah jam berarti Rp.

30.000,-. Uang tabungan Leo kurang Rp. 5.000,-. Maka

Leo ingin pinjam pada Papa. Leo ingin membeli waktu

Papa setengah jam saja, untuk menemani Leo main ular

tangga. Leo rindu pada Papa.” Kata Leo polos dengan

masih menyisakan isakannya yang tertahan.


“Steven terdiam, dan kehilangan kata-kata. Bocah

kecil itu dipeluknya erat-erat, bocah kecil yang

menyadarkan bahwa cinta bukan hanya sekedar ungkapan

kata-kata belaka namun berupa ungkapan perhatian dan

kepedulian.


0 komentar: